Tampilkan postingan dengan label FIQIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIQIH. Tampilkan semua postingan

ADAB SEORANG PENUNTUT ILMU

[Image]Oleh Ustadz Abdullah Shaleh Al-Hadrami hafizhahullahMukaddimah:Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, keluarga, para sahabat dan pengikut setia mereka sampai hari kiamat, Amma ba’du:(( Allah Ta’ala telah menjaga pertahanan kaum muslimin dengan mujahidin (orang-orang yang berjihad) dan menjaga syariat Islam dengan para penuntut ilmu, sebagaimana dalam firmanNya:“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)Pada ayat tersebut Allah Ta’ala membagi orang-orang beriman menjadi dua kelompok, mewajibkan kepada salah satunya berjihad fi sabilillah dan kepada yang lainnya mempelajari ilmu agama. Sehingga tidak berangkat untuk berjihad semuanya karena hal ini menyebabkan rusaknya syariat dan hilangnya ilmu, dan tidak pula menuntut ilmu semuanya sehingga orang-orang kafir akan mengalahkan agama ini. Karena itulah Allah Ta’ala mengangkat derajat kedua kelompok tersebut.)) –Hilyah al-‘Alim al-Mu’allim, Salim al-Hilaliy hal: 5-6.(( Yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang Allah turunkan kepada NabiNya –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam berupa keterangan dan petunjuk. Jadi ilmu yang dipuji dan disanjung adalah ilmu wahyu, ilmu yang Allah I turunkan saja. Sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam :“Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan maka Dia akan menjadikannya mengerti masalah agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda pula:“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya berarti ia mengambil nasib (bagian) yang banyak.”(HR. Abu-Dawud dan At-Tirmidzi)Sebagaimana telah kita ketahui bahwasanya yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu syariat Allah Ta’ala dan bukan yang lainnya.)) –Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 11Hukum Menuntut Ilmu Syar’i:(( Mununtut ilmu syar’i adalah fardlu kifayah yaitu apabila telah mencukupi (para penuntut ilmu) maka bagi yang lain hukumnya adalah sunnah, namun bisa juga menjadi wajib bagi tiap orang atau fardlu ‘ain yaitu ilmu tentang ibadah atau muamalah yang hendak ia kerjakan.)) –Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 21Penuntut Ilmu Hendaklah Menghiasi Dirinya Dengan Adab-Adab Sebagai Berikut:Pertama: Mengikhlaskan Niat Hanya Karena Allah Ta’ala.(( Hendaklah dalam menuntut ilmu niatnya adalah wajah Allah Ta’ala dan kampung akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam :“Barangsiapa menuntut ilmu –yang mestinya untuk mencari wajah Allah Ta’ala-, tiadalah ia mempelajarinya melainkan hanya untuk mendapatkan bagian dari dunia, pasti ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.”(HR. Ahmad dll). Ini adalah ancaman yang keras.)) –Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 25(( Apabila ilmu telah kehilangan niat yang ikhlas; Berpindahlah ia dari ketaatan yang paling afdhal menjadi penyimpangan yang paling rendah.Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri –Rahimahullah berkata: “Tiadalah aku mengobati sesuatu yang lebih berat dari niatku”Dari Umar bin Dzarr bahwasanya ia berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku ! Mengapa orang-orang menangis apabila ayah menasehati mereka, sedang mereka tidak menangis apabila orang lain yang menasehati mereka? Ayahnya menjawab: “Wahai puteraku ! Tidak sama ratapan seorang ibu yang ditinggal mati anaknya dengan ratapan wanita yang dibayar (untuk meratap).)) –Hilyah Tholibil ‘Ilmi, Bakr Abu Zaid hal: 9-10 .Kedua: Memberantas Kobodohan Dirinya dan Orang Lain.Hendaklah dalam menuntut ilmu berniat untuk memberantas kebodohan dari dirinya dan dari orang lain, karena pada dasarnya manusia itu jahil (bodoh), sebagaimana firman Allah Ta’ala:“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalan keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”(QS. An-Nahl: 78)Al-Imam Ahmad -rahimahullah berkata:“Ilmu itu tiada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.” Mereka bertanya: Bagaimakah hal itu?. Beliau menjawab: “Berniat memberantas kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.”)) –Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 26-27.Ketiga: Membela Syariat.(( Hendaklah dalam menuntut ilmu berniat membela syariat, karena kitab-kitab tidak mungkin bisa membela syariat. Tiadalah yang membela syariat melainkan para pengemban syariat. Disamping itu, bid’ah juga selalu muncul silih berganti yang ada kalanya belum pernah terjadi pada jaman dahulu dan tidak ada dalam kitab-kitab sehingga tidak mungkin membela syariat kecuali para penuntut ilmu.)) –Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 27-28(( Alangkah banyaknya kitab dan alangkah banyak pula perbedaan didalamnya ! Seorang muslim tidak lagi tahu apa yang harus ia ambil dan apa yang harus ia tinggalkan? Dari mana memulai dan dimana berakhir ! )) –Wasiyyatu Muwaddi’, Husain al-‘Awayisyah hal: 29-30.Kempat: Berlapang Dada Dalam Masalah Khilafiyah (Perbedaan Pendapat).(( Hendaklah selalu berlapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat yang bersumber dari ijtihad. Yaitu permasalahan yang memungkinkan seseorang berpendapat dan terbuka kemungkinan untuk berbeda. Adapun siapa saja yang menyelisihi jalan salafus sholeh –Rahimahumullah dalam masalah aqidah maka hal ini tidak bisa diterima dan ditolelir.)) –Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 28-29. Baca pula untuk masalah ini kitab Perpecahan Umat, karya: Dr Nasir al-‘Aql, penerbit Darul Haq Jakarta.Kelima: Mengamalkan Ilmu atau Zakat Ilmu.(( Hendaklah para penuntut ilmu mengamalkan ilmunya, baik berupa aqidah, ibadah, akhlak, adab dan muamalah, karena hal ini adalah merupakan hasil dan buah dari ilmu itu. Pengemban ilmu itu seperti pembawa senjata; Bisa berguna dan bisa pula mencelakakan sebagaimana sabda Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam:“Al-Qur’an itu membelamu atau mencelakakanmu” (HR. Muslim).Membelamu apabila kamu amalkan dan mencelakakanmu apabila tidak kamu amalkan.)) –Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 32(( Karena keutamaan ilmu itulah ia semakin bertambah dengan banyaknya nafkah (diamalkan dan diajarkan) dan berkurang apabila kita sayang (tidak diamalkan dan diajarkan) serta yang merusaknya adalah al-kitman (menyembunyikan ilmu).)) –Hilyah Tholibil Ilmi, Bakr Abu Zaid hal: 72.Keenam: Berdakwah Kepada Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman:“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali ‘Imran: 104)(( Hendaklah mendakwahkan ilmunya kepada Allah Ta’ala dalam berbagai kesempatan, baik di masjid, di majlis-majlis, di pasar dan diberbagai kesempatan.)) –Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 37-38.Ketujuh: Hikmah.(( Hendaklah menghiasi dirinya dengan hikmah. Apabila kita menempuh cara ini pastilah kita mendapatkan kebaikan yang sangat banyak, sebagaimana firman Allah Ta’ala:“Dan barangsiapa yang dianugrahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak.”(QS. Al-Baqarah: 269)Al-Hakim (orang yang bijaksana) adalah orang yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Allah Ta’ala telah menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah dalam firmanNya:“Serulah (manusia) kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”(QS. An-Nahl: 125)Dan Allah Ta’ala menyebutkan pula tingkatan keempat tentang berdebat dengan ahli kitab dalam firmanNya:“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dzalim diantara mereka.”(Al-‘Ankabut: 46).)) –Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 37-38.Kedelapan: Sabar Dalam Menuntut Ilmu.(( Hendaklah sabar dalam menuntut ilmu, tidak terputus (ditengah jalan) dan tidak pula bosan, bahkan terus-menerus menuntut ilmu semampunya.Kisah tentang kesabaran salafus shalih –Rahimahullah dalam menuntut ilmu sangatlah banyak, sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Abbas –Radhiallahu ‘Anhuma bahwa beliau ditanya oleh seseorang: Dengan apa anda bisa mendapatkan ilmu? Beliau menjawab: “Dengan lisan yang selalu bertanya dan hati yang selalu memahami serta badan yang tidak pernah bosan.)) –Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 40 dan 61(( Bahkan sebagian dari mereka (salafus shalih) merasakan sakit yang menyebabkannya tidak bisa bangun dikarenakan tertinggal satu hadis saja. Sebagaimana terjadi kepada Syu’bah bin al-Hajjaj –Rahimahullahرia berkata: “ketika aku belajar hadis dan tertinggal (satu hadis) maka akupun menjadi sakit.”Barangsiapa mengetahui keutamaan ilmu dan merasakan kelezatannya pastilah ia selalu ingin menambah dan mengupayakannya, ia selalu lapar (ilmu) dan tidak pernah kenyang sebagaimana sabda Rasulullah–Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Ada dua kelompok manusia yang selalu lapar dan tidak pernah kenyang: Orang yang lapar ilmu tidak pernah kenyang dan orang yang lapar dunia tidak pernah kenyang pula.” (HR. Al-Hakim dll dengan sanad tsabit).)) –Hilyah al-‘Alim al-Mu’allim, Syaikh Salim al-Hilaliy hal: 22-23(( Abu al-‘Aliyah -Rahimahullah menuturkan: Kami mendengar riwayat (hadis) dari Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam sedang kami berada di Basrah (Iraq), lalu kamipun tidak puas sehingga kami berangkat ke kota Madinah agar mendengar dari mulut mereka (para perawinya) secara langsung.)) –‘Audah ila as-Sunnah, Syaikh Ali Hasan al-Atsariy hal: 44.Kesembilan: Menghormati dan Menghargai Ulama.(( Hendaklah para penuntut ilmu menghormati dan menghargai para ulama dan berlapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat diantara mereka serta memberi udzur (alasan) kepada para ulama yang menurut keyakinan mereka telah berbuat kesalahan. Ini adalah masalah yang sangat penting, karena sebagian orang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain untuk menjatuhkan mereka dimata masyarakat. Ini adalah kesalahan terbesar.)) –Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 41(( Hendaklah menghormati majelis (ilmu) dan menampakkan kesenangan terhadap pelajaran serta mengambil faedahnya. Apabila seorang syaikh (guru) melakukan suatu kesalahan atau kekeliruan maka janganlah hal itu membuatnya jatuh dihadapanmu, karena hal ini menjadikanmu tidak lagi mendapatkan ilmunya. Siapasih orang yang tidak pernah berbuat kesalahan?.Jangan sekali-kali memancing kemarahannya dengan “Perang urat syaraf”, yaitu menguji kemampuan ilmu dan kesabarannya.Apabila anda hendak berguru ke orang lain maka mintalah ijin kepadanya, karena hal ini menjadikannya selalu menghormatimu, semakin cinta dan sayang kepadamu.)) –Hilyah Tholibil Ilmi, Bakr Abu Zaid hal: 36.Kesepuluh: Memegang Teguh Al-Kitab dan As –Sunnah.(( Wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengambil ilmu dari sumbernya yang tidak mungkin seseorang sukses bila tidak memulai darinya, yaitu:1- Al-Qur’anul Karim; Wajib bagi para penuntut ilmu untuk berupaya membaca, menghafal, memahami dan mengamalkannya.2- As-Sunnah As-Shahihah; Ini adalah sumber kedua syariat Islam (setelah al-Qur’an) dan penjelas al-Qur’anul Karim3- Sumber ketiga adalah ucapan para ulama, janganlah anda menyepelekan ucapan para ulama karena mereka lebih mantap ilmunya dari anda )) –Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 43,44 dan 45.Kesebelas: At-Tatsabbut dan Ats-Tsabat.(( Termasuk adab terpenting yang wajib dimiliki oleh penuntut ilmu adalah; At-tatsabbut. Yang dimaksud dengan at-tatsabbut adalah berhati-hati dalam menukil berita dan ketika berbicara.Adapun ats-tsabat adalah sabar dan tabah untuk tidak bosan dan marah, dan agar tidak mengambil ilmu hanya secuil-secuil saja lalu ia tinggalkan, karena hal ini berdampak negatif dan menyia-nyiakan waktu tanpa faedah.)) –Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 50.Keduabelas: Berupaya Untuk Memahami Maksud Allah Ta’ala dan RasulNya –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam(( Termasuk adab terpenting pula adalah masalah pemahaman tentang maksud Allah Ta’ala dan juga maksud Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam; Karena banyak orang yang diberi ilmu namun tidak diberi pemahaman. Tidak cukup hanya menghapal al-Qur’an dan al-Hadis saja tanpa memahaminya, jadi harus dipahami maksud Allah Ta’ala dan RasulNya –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam. Alangkah banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh kaum yang berdalil dengan nas-nas yang tidak sesuai dengan maksud Allah Ta’ala dan RasulNya –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam sehingga timbullah kesesatan karenanya. Kesalahan dalam pemahaman lebih berbahaya dari pada kesalahan dikarenakan kebodohan. Seorang yang jahil (bodoh) apabila melakukan kesalahan dikarenakan kebodohannya ia akan segera menyadarinya dan belajar, adapun seorang yang salah dalam memahami sesuatu ia tidak akan pernah merasa salah dan bahkan selalu merasa benar)) –Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 52.Inilah sebagian dari adab yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu agar menjadi suri tauladan yang baik dan mendapatkan kesuksesan di dunia dan di akhirat, amien.Maraji’:- Al-Qur’anul Karim dan Terjemahnya, hadiah dari Kerajaan Saudi Arabia.- Kitab Al-Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin -Rahimahullah.- Hilyah Tholibil Ilmi, karya Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid –hafidhahullah.- Hilyatul ‘Alim Al-Mu’allim Wa Bulghatu Ath-Thalib Al-Muta’allim, karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy –hafidhahullah.- ‘Audah ‘Ila As-Sunnah, karya Syaikh Ali Hasan al-Atsariy –hafidhahullah.- Washiyyatu Muwaddi’, karya Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah –hafidhahullah.(Disampaikan Pada 14 Rabi’uts Tsani 1425 / 23 Mei 2005 Dalam Pengajian Umum INDAHNYA ISLAM 22-24 Mei 2005 di Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya Malang).

SYARAT YANG HARUS DIPENUHI DALAM IBADAH

Oleh
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin

Perlu diketahui bahwa mutaba'ah (mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syari'at dalam enam perkara.

Pertama : Sebab.

Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari'atkan, maka ibadah tersebut adalah bid'ah dan tidak diterima (ditolak). Contoh : Ada orang yang melakukan shalat tahajud pada malam dua puluh tujuh bulan Rajab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi'raj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (dinaikkan ke atas langit). Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid'ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syari'at. Syarat ini -yaitu : ibadah harus sesuai dengan syari'at dalam sebab - adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah, namun sebenarnya adalah bid'ah.

Kedua : Jenis.

Artinya : ibadah harus sesuai dengan syari'at dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima. Contoh : Seorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syari'at dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi dan kambing.

Ketiga : Kadar (Bilangan).

Kalau seseorang yang menambah bilangan raka'at suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid'ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan ketentuan syari'at dalam jumlah bilangan rakaatnya. Jadi, apabila ada orang shalat zhuhur lima raka'at, umpamanya, maka shalatnya tidak sah.

Keempat : Kaifiyah (Cara).

Seandainya ada orang berwudhu dengan cara membasuh tangan, lalu muka, maka tidak sah wudhunya karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syari'at.

Kelima : Waktu.

Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan Dzul Hijjah, maka tidak sah, karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam.

Saya pernah mendengar bahwa ada orang bertaqarub kepada Allah pada bulan Ramadhan dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid'ah, karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertaqarrub kepada Allah kecuali sebagai kurban, denda haji dan akikah. Adapun menyembelih pada bulan Ramadhan dengan i'tikad mendapat pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana dalam Idul Adha adalah bid'ah. Kalau menyembelih hanya untuk memakan dagingnya, boleh saja.

Keenam : Tempat.

Andaikata ada orang beri'tikaf di tempat selain masjid, maka tidak sah i'tikafnya. Sebab tempat i'tikaf hanyalah di masjid. Begitu pula, andaikata ada seorang wanita hendak beri'tikaf di dalam mushalla di rumahnya, maka tidak sah i'tikafnya, karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan ketentuan syari'at, Contoh lainnya : Seseorang yang melakukan thawaf di luar Masjid Haram dengan alasan karena di dalam sudah penuh sesak, tahawafnya tidak sah, karena tempat melakukan thawaf adalah dalam Baitullah tersebut, sebagaimana firman Allah Ta'ala.

"Artinya : Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf". [Al-Hajj : 26].

Kesimpulan dari penjelasan di atas, bahwa ibadah seseorang tidak termasuk amal shaleh kecuali apabila memenuhi dua syarat, yaitu :

Pertama : Ikhlas
Kedua : Mutaba'ah.

Dan Mutaba'ah tidak akan tercapai kecuali dengan enam perkara yang telah diuraikan tadi.



[Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalisy Syar'i wa Khatharil Ibtidaa' edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid'ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor - Jabar]

KEUTAAMAN MEMBACA AL QUR'AN

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Menyukuri.” (QS. Fathir: 29-30)

Ada dua cara seseorang di dalam membaca kitab Allah. Pertama, tilawah hukmiyyah, yaitu membenarkan segala berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, tilawah lafhzhiyyah atau qira’atul Qur’an, banyak sekali nash-nash yang menyebut keutamaannya. Dalam Shahih Bukhari, disebutkan riwayat dari Utsman bin Affan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Dalam Shahihain, disebutkan pula hadits dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an kelak (mendapat tempat disurga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka dia mendapatkan dua pahala.”

Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan dari membaca Al-Qur’an itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pembacanya.

Dalam Shahih Muslim disebutkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena pada hari Kiamat nanti dia akan datang sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia mendapatkan satu kebaikan, sedangkan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

Keutamaan-keutamaan ini meliputi seluruh kandungan isi Al-Qur’an. Banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan surat-surat tertentu, misalnya surat Al-Fatihah. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Sa’id bin Mu’alla bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya, “Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al-Qur’an, yaitu Alhamdulillaahi Rabbi l-‘alamiin (Al-Fatihah). Ini adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an agung yang diberikan kepadaku.”

Oleh karena keutamaannya itu, maka membacanya menjadi bagian dari rukun shalat. Shalat tidak akan menjadi sah tanpa membaca Al-Fatihah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaq ‘alaih)

Surat dalam Al-Qur’an lainnya yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah surat Az-Zahrowain, yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran. Karena sesungguhnya keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua buah awan atau seperti dua kawanan burung yang sedang terbang berbaris membela orang-orang yang biasa membacanya. Bacalah surat Al-Baqarah karena membacanya membawa berkah sedangkan meninggalkannya akan menyebabkan penyesalan. Surat ini tidak akan bisa dibaca oleh para tukang sihir.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan.” (HR. Muslim)

Surat lainnya yang mempunyai keutamaan khusus adalah surat Al-Ikhlas. Dalam Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Abu Said Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, sesungguhnya ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.”

Selain itu, surat yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Falaq dan An-Nas, atau biasa disebut mu’awwidzatain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kamu beberapa ayat yang diturunkan pada hari ini yang belum pernah sebanding dengannya? Yaitu Qul ‘a’udzibi Rabbi l-falaq, dan Qul ‘a’udzubi Rabbi n-nas.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh memperbanyak bacaan Al-Qur’an yang penuh berkah, apalagi di bulan Ramadhan. Para Salafush Shalih dahulu selalu memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Imam Malik, jika Ramadhan tiba, maka beliau berhenti dari membaca hadits dan majelis-majelis ilmu (berhenti mengajar) untuk kemudian berganti membaca Al-Qur’an. Imam Qatadah selalu meng-khatam-kan bacaan Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali, sedangkan pada bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap tiga hari sekali, dan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap hari.

PUASA-PUASA SUNNAH YANG DIANJURKAN

Segala pujian yang terbaik hanya milik Alloh Ta’ala yang telah mensyariatkan bagi hamba-Nya ibadah-ibadah yang sunnah di samping ibadah yang wajib. Sehingga kaum muslimin mempunyai kesempatan yang amat banyak untuk menutupi dan menambal kekurangan yang ada pada ibadah-ibadah wajib. Dan juga sebagai simpanan yang dapat memperberat timbangan di hari kiamat kelak. Di antara ibadah sunnah yang disyariatkan oleh Alloh kepada umat ini adalah puasa sunnah.
Adapun macam-macam puasa sunnah beserta keutamaannya masing-masing yaitu:

1. Puasa enam hari di bulan Syawal, baik dilakukan secara berturutan ataupun tidak. Keutamaan puasa romadhon yang diiringi puasa Syawal ialah seperti orang yang berpuasa selama setahun (HR. Muslim).
2. Puasa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang dimaksud adalah puasa di sembilan hari yang pertama dari bulan ini, tidak termasuk hari yang ke-10. Karena hari ke-10 adlah hari raya kurban dan diharomkan untuk berpuasa.
3. Puasa hari Arofah, yaitu puasa pada hari ke-9 bulan Dzuhijjah. Keutamaan: akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang (HR. Muslim). Yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya bisa dihapus dengan jalan bertaubat.
4. Puasa Muharrom, yaitu puasa pada bulan Muharrom terutama pada hari Assyuro’. Keutamaannya adalah bahwa puasa di bulan ini adalah puasa yang paling utama setelah puasa bulan Romadhon (HR. Bukhori)
5. Puasa Assyuro’. Hari Assyuro’ adalah hari ke-10 dari bulan Muharrom. Nabi sholallohu ‘alaihi wasssalam memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari Assyuro’ ini dan mengiringinya dengan puasa 1 hari sebelum atau sesudahnhya. Hal ini bertujuan untuk menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani yang hanya berpuasa pada hari ke-10. Keutamaan: akan dihapus dosa-dosa (kecil) di tahun sebelumnya (HR. Muslim).
6. Puasa Sya’ban. Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Keutamaan: bulan ini adalah bulan di mana semua amal diangkat kepada Robb semesta alam (HR. An-Nasa’i & Abu Daud, hasan).
7. Puasa pada bulan Harom (bulan yang dihormati) yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab. Dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah pada bulan-bulan tersebut termasuk ibadah puasa.
8. Puasa Senin dan Kamis. Namun tidak ada kewajiban mengiringi puasa hari Senin dengan puasa hari Kamis atau sebaliknya. Keduanya merupakan hari di mana amal-amal hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Alloh.
9. Puasa tiga hari setiap bulan. Disunnahkan untuk melakukannya pada hari-hari putih (Ayyaamul Bidh) yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan. Sehingga tidaklah benar anggapan sebagian orang yang menganggap bahwa puasa pada harai putih adalah puasa dengan hanya memakan nasi putih, telur putih, air putih, dsb.
10. Puasa Dawud, yaitu puasa sehari dan tidak puasa sehari. Keutamaannya adalah karena puasa ini adalah puasa yang paling disukai oleh Alloh (HR. Bukhori-Muslim).

Demikianlah beberapa jenis puasa sunnah yang disyariatkan dalam agama ini. Kita memohon kepada Alloh agar diberikan rasa cinta dalam diri kita terhadap amalan yang dapat mendekatkan diri ini kepadaNya.

Wallahu a'lam
Semoga bermanfaat.

Larangan Bertabarruj


Bismillah...

Tabarruj berarti berhias dengan memperlihatkan kecantikan dan menampakkan keindahan tubuh dan kecantikan wajah.
Qatadah mengatakan: yaitu wanita yang jalannya dibuat-buat dan genit.
Muqatil mengatakan: tabaruj adalah tindakan yang dilakukan seorang wanita dengan melepaskan jilbabnya, sehingga tampak darinya gelang dan kalungnya.
Ibnu Katsir mengatakan: yaitu wanita yang keluar dari rumah dengan berjalan di hadapan orang laki-laki, yang demikian itu disebut sebagai tabarruj jahiliyah.
Bukhari mengatakan: tabaruj merupakan tindakan seorang wanita yang menampakkan kecantikannya kepada orang lain.
larangan tabarruj dalam al-quran
dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (Q.S. Al-Ahzab: 33)
perintah mengenakan pakaian yang menutupi aurat dalam al-quran
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (Al-A'raf: 26)
Al-Ahzab: 59 dan An-Nur: 31 perintah mengenakan pakaian yang menutupi aurat.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah ini, dimana sejak dini Islam telah memberikan batasan usia seorang wanita dalam menutup aurat .
mengenai hal ini Rasulullah SAW bersabda:
" Wahai Asma, jika seorang wanita telah menjalani haid, maka tidak diperbolehkan baginya dilihat kecuali ini dan ini"  Beliau mengisyaratkan wajah dan kedua telapak tangannya. (H.R Abu Daud).
selain itu beliau juga bersabda:
" ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya, yaitu: suatau kaum yang bersamanya cambuk seperti seekor sapi yang digunakannya untuk mencambuk orang-orang, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi *******, genit, kepalanya seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga, sesungguhnya bau surga itu tercium dari jarak ini dan itu". (H.R Ibnu Khuzaimah).
diriwayatkan dari Aisyah R.A, dia menceritakan ketika Rasulullah sedang duduk-duduk di masjid, tiba-tiba ada wanita yang berjalan dengan penuh sombong dengan perhiasannya, lalu Beliau berkata:
" Wahai sekalian manusia, laranglah wanita-wanita kalian memakai perhiasan dan wangi-wangian di masjid, karena sesungguhnya bani Israil tidak dilaknat kecuali setelah wanita-wanita mereka memakai perhiasan dan wangi-wangian di masjid" (HR. Ibnu Majah).
tabarruj merupakan ciri kebodohan.
hendaknya seorang wanita muslimah mengetahui bahwa tabarruj merupakan ciri kebodohan dan keterbelakangan. merupakan suatu dosa jika seorang wanita membiasakan diri ke tempat-tempat dansa dan tempat-tempat maksiat lainnya.
sabda Rasulullah: " wanita itu mempunyai kekurangan akal dan agama".
setiap kali akal wanita itu berkurang, maka semakin terlihat tabarruj mereka. dan setiap kali kebodohan mereka bertambah, maka mereka akan lebih parah dalam berhias dan berbuat senonoh yang menyerupai wanita-wanita jahiliyah dahulu. (Al-Ahzab: 33)
wallahu'alam.
** Fiqih Wanita, Syaikh Kamil Muhammad 'Uwaidah **

Menjaga Pandangan Mata

Bismillah.... Ada seorang saudari yg ku kagumi akhlaknya.. Dan aq bnyak belajar dari dia.. Parasnya cantik jelita.. Senyumnya sangat menggoda... Subhanallah.. Sungguh indah Allah menciptakan wanita... Disamping parasnya nan jelita.. Akhlaknya pun amat mulia.. Dia rendah hati.. Ketika diantara kita slalu haus akan pujian dan kekaguman dr para ikhwan.. Tidak sama dengan dia.. Dia selalu takut akan pujian-pujian yg membuat hati berbangga diri.. Terkotori.. Dia berkata "Sesungguhnya hanya Allah yg patut dipuji".. Suatu hari dia bercerita.. "Saudariku.. Kau tau disamping aq bersyukur krn Allah menganugerahkan wajah yg cantik padaku.. Ada ketakutan besar dalam hati ini.. Aq takut kecantikanku membuatku sombong,aq takut kecantikanku membuatku mengharapkan decak kagum dr para ikhwan.. Aq takut kecantikanku mendamba para pemuja.. Aq takut kecantikanku mengharapkan aq jadi idola dan mengundang berjuta penggemar... , Sayyidah Aisyah R.A pernah berpesan "sebaik-baik wanita adalah yang tidak dipandang dan tdk memandang lelaki" .. Bukan berarti org tdk boleh memandang kita dan kita tdk boleh memandang mreka.. Tp jagalah pandangan kita.. Dan jagalah diri kita agar tidak sembarangan jd bahan tontonan... Saudariku.. Taukah kamu,kita dulu sering meng-upload photo terbaru.. Ke dalam album facebook kita.. Sbelum kita tau.. Bhwa smua itu hnya akan menyebabkan para ikhwan tergoda dengan senyum manis kita, membuat mreka tak mampu menjaga pandangan... Sekarang aq tak pernah berani berphoto.. Karena aq takut,ketika photoku terlihat cantik.. Aq takut tergoda untk menguploadnya... Ya Rabbi.. Semga kita dapat terus bersembunyi.. Di balik malu ini.. Karena malu adalah perhiasan wanita beriman... Sahbatku... Percayalah.. Tanpa memasang photopun kita tetap bsa menjalin ukhuwah.. Tetap tdk gaptek ,tetap bsa bersilaturahim.. Tetap LEBIH SEMANGAT berdakwah... Istiqomah ya ukhti.. :)

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme