Menjaga Pandangan Mata

Bismillah.... Ada seorang saudari yg ku kagumi akhlaknya.. Dan aq bnyak belajar dari dia.. Parasnya cantik jelita.. Senyumnya sangat menggoda... Subhanallah.. Sungguh indah Allah menciptakan wanita... Disamping parasnya nan jelita.. Akhlaknya pun amat mulia.. Dia rendah hati.. Ketika diantara kita slalu haus akan pujian dan kekaguman dr para ikhwan.. Tidak sama dengan dia.. Dia selalu takut akan pujian-pujian yg membuat hati berbangga diri.. Terkotori.. Dia berkata "Sesungguhnya hanya Allah yg patut dipuji".. Suatu hari dia bercerita.. "Saudariku.. Kau tau disamping aq bersyukur krn Allah menganugerahkan wajah yg cantik padaku.. Ada ketakutan besar dalam hati ini.. Aq takut kecantikanku membuatku sombong,aq takut kecantikanku membuatku mengharapkan decak kagum dr para ikhwan.. Aq takut kecantikanku mendamba para pemuja.. Aq takut kecantikanku mengharapkan aq jadi idola dan mengundang berjuta penggemar... , Sayyidah Aisyah R.A pernah berpesan "sebaik-baik wanita adalah yang tidak dipandang dan tdk memandang lelaki" .. Bukan berarti org tdk boleh memandang kita dan kita tdk boleh memandang mreka.. Tp jagalah pandangan kita.. Dan jagalah diri kita agar tidak sembarangan jd bahan tontonan... Saudariku.. Taukah kamu,kita dulu sering meng-upload photo terbaru.. Ke dalam album facebook kita.. Sbelum kita tau.. Bhwa smua itu hnya akan menyebabkan para ikhwan tergoda dengan senyum manis kita, membuat mreka tak mampu menjaga pandangan... Sekarang aq tak pernah berani berphoto.. Karena aq takut,ketika photoku terlihat cantik.. Aq takut tergoda untk menguploadnya... Ya Rabbi.. Semga kita dapat terus bersembunyi.. Di balik malu ini.. Karena malu adalah perhiasan wanita beriman... Sahbatku... Percayalah.. Tanpa memasang photopun kita tetap bsa menjalin ukhuwah.. Tetap tdk gaptek ,tetap bsa bersilaturahim.. Tetap LEBIH SEMANGAT berdakwah... Istiqomah ya ukhti.. :)

Apa pokok-pokok Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah aqidah dan masalah-masalah agama yang lain ?


Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa pokok-pokok Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah aqidah dan masalah-masalah agama yang lain ?

Jawaban
Kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah-masalah aqidah dan masala-masalah dien yang lain adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan sunnah rasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga petunjuk dan sunnah para Khulafaur Rasyidin. Karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi” [Ali-Imran : 31]

“Artinya : Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” [An-Nisa ; 80]

“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah ; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya” [Al-Hasyr : 7]

Ini, meskipun dalam masalah pembagian ghanimah, maka dalam urusan-urusan syar’i lebih utama lagi, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada manusia pada hari Jum’at, beliau berkata :

“Artinya ; Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitbaullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat adalah neraka” [1]

Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku, dan sunnah khulafaur rasyidin al mahdiyin setelahku, berpeganglah kepadanya, dan gigitlah dengan geraham dan jauhilah perkara yang diada-adakan, sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat” [2]

Nash-nash dalam masalah ini banyak. Jadi jalan ahlus sunnah wal jama’ah dan manhaj mereka adalah berpegang teguh kepada kitabullah dan sunnah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta sunnah khulafaur rasyidin al mahdiyin setelah beliau. Oleh karena itu merek menegakkan dien dan tidak bercerai-berai sebagai wujud pelaksanaan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” [Asy-Syura : 13]

Mereka itu, meskipun di antara mereka terjadi perselisihan karena ijtihad yang memang diperbolehkan, namun perselisihan ini tidak menyebabkan perselisihan hati-hati mereka, bahkan kamu dapati mereka ini bersatu dan saling mencintai, meskipun terjadi perselihan yang berangkat dari ijtihad.

[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]
_________
Foote Note
[1]. Dikeluarkan oleh Muslim, Kitabul Jumah, Bab Tahfifus Shalat wal Khutbah 867, 43
[2]. Dikeluarkan oleh Abu Dawud, Kitabus Sunnah bab Filuzumis Sunnah 4 : 607

Dasar-Dasar Memahami Tauhid

Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kelurusan ajaran Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah
beribadah kepada Allah secara ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah
berfirman [artinya]: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyaat1:56)
Dan bila Anda telah tahu bahwasanya Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya,
maka ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid.
Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai dengan bersuci.
Bila ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila
disertai adanya hadatz (tidak suci). Allah berfirman [artinya]:" Tidaklah pantas orang-orang
musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka
sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam
neraka" (At-Taubah: 17)
Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan
merusak ibadah itu sendiri. Dan ibadah yang bercampur dengan syirik itu akan
menggugurkan amal sehingga pelakunya menjadi penghuni neraka, Allah berfirman
[artinya]: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa
yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (An-
Nisaa': 48)
Kemurnian ibadah akan mampu dicapai bila memahami 4 kaidah yang telah Allah
nyatakan dalam firman-Nya:


Kaidah Pertama
Engkau harus mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi
rizki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang memberi manfa'at, Yang memberi
madzarat, Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). Tetapi semuanya itu tidak
menyebabkan mereka sebagai muslim, Allah berfirman:
"Katakanlah: 'Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa
[menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang
hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab:'Allah'. Maka
katakanlah:'Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]." (Yunus:31)


Kaidah Kedua
Mereka (musyrikin) berkata :"Kami tidak berdo'a kepada mereka (Nabi, orang-orang shalih
dll) kecuali agar bisa mendekatkan kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi
syafa'at. Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka. Namun hal tersebut dilakukan
dengan cara melalui syafaat dan mendekatkan diri kepada mereka".
Dalil tentang mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]:"Dan orang-orang yang
mengambil pelindung selain Allah (berkata):"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya
mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah
akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya
Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar" ( Az-Zumar: 3)
Adapun dalil tentang syafa'at yaitu firman Allah [artinya]:"Dan mereka menyembah selain
Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula
kemanfa'atan, dan mereka berkata:"Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi
Allah". Katakanlah:"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di
langit dan tidak [pula] di bumi" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka
mempersekutukan [itu]." (Yuunus: 18)
Syafa'at itu ada 2 macam:
• Syafa'at munfiyah (yang ditolak)
• Syafa'at mutsbitah (yang diterima)
Syafa'at munfiyah adalah syafa'at yang dicari dari selain Allah. Sebab tidak seorangpun
yang berkuasa dan berhak untuk memberikannya kecuali Allah, Allah berfirman
[artinya]:"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yang
telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan
tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah
orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah: 254)
Adapun syafa'at mutsbitah adalah syafa'at yang dicari dari Allah. Pemberi syafa'at itu
dimuliakan dengan syafa'at, sedangkan yang diberi hak untuk memberikan syafa'at adalah
orang yang diridhai Allah, baik ucapan maupun perbuatannya setelah memperoleh izin-
Nya. Allah berfirman [artinya]:"Siapakah yang mampu memberi syafa'at disamping Allah tanpa
izin-Nya?" (Al-Baqarah:255)




Kaidah Ketiga
Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan kapada manusia tentang
macam-macam sistem peribadatan yang dilakukan oleh manusia. Diantara mereka ada
yang menyembah matahari dan bulan, diantara mereka ada pula yang menyembah orangorang
shaleh, para malaikat, para wali, pepohonan, dan bebatuan.
Mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dalilnya adalah firman
Allah [artinya]:"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik
Allah semuanya."(Al-Baqarah:193)
Sedangkan dalil larangan beribadah kepada matahari dan bulan adalah firman Allah
[artinya]: "Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.
Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada
Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah."(Fushilat:37)
Dan dalil larangan beribadah kepada orang-orang shaleh adalah: "Katakanlah:'Panggillah
mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk
menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya'. Orang-orang yang mereka
seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat
[kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab
Rabbmu adalah sesuatu yang [harus] ditakuti. (Al-Ishra:56-57)
Adapun dalil tentang larangan beribadah kepada para malaikat adalah: "Dan [ingatlah] hari
[yang di waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada
malaikat:"Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?" Malaikat-malaikat itu menjawab:"Maha
Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin;
kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa
[untuk memberikan] kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain.Dan
Kami katakan kepada orang-orang yang zalim:"Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya
kamu dustakan itu". (Sabaa': 40-42)
Larangan beribadah kepada para Nabi dalilnya:"Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:"Hai
'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:"Jadikanlah aku dan ibuku dua
orang Ilah selain Allah". 'Isa menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah
mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu.
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib"Aku tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku [mengatakannya] yaitu:"Sembahlah
Allah, Rabbku dan Rabbmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau
wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan
atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba
Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana." (Al-Maidah:116-118)
Adapun dalil tentang larangan penyembahan terhadap pepohonan, bebatuan adalah hadits
Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata: " Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam menuju Hunain. Kami adalah para pemuda yang telah mengenal bentuk-bentuk
kesyirikan. Orang-orang musyrik mempunyai tempat duduk untuk beristirahat dan
menggantungkan senjata. Tempat itu dikenal sebagai Dzatu Anwath. Lalu kami melalui
pohon bidara dan [sebagian] kami mengatakan: "Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami
Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allahu Akbar, itu adalah assunnan (jalan), kamu kamu telah mengatakan
-demi dzat yang menguasai diriku-sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israel
kepada Musa, "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka
mempunyai beberapa ilah (berhala)". Musa menjawab:"Sesungguhnya kamu ini adalah
kaum yang bodoh". Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang
dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab:"Patutkah aku
mencari Ilah untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah
melebihkan kamu atas segala umat." (Al-A'raf:138-140)




Kaidah Keempat
Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin
zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdo'a secara ikhlas kepada Allah
ketika mereka ditimpa bahaya, akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam
keadaan senang.
Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan
perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang, hal ini sebagaimana
diterangkan Allah dalam Al-Qur'an: "Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo'a kepada
Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai
ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah], agar mereka mengingkari nikmat
yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang [dalam
kekafiran]. Kelak mereka akan mengetahui [akibat perbuatannya]." (Al-Ankabut: 65-66)


Karya: Syaikh Muhammad At-Tamimi

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme